Prairie of Polka Flowers BENTO :9
[Nasi, pepes tahu, buncis, tauge, saei putih dan wortel) #FoodCombining
read this yg ngaku2 laki.
unicorn-meat-is-too-mainstream:
The most beautiful and biggest natural flower garden in the...
MEET AND EAT
bertemu dengan adik kecil si Sarah Luziani,Dita Fakhrunisa yang lagi ulang tahun, Satria juragan batagor, dokter Ibel , Imonski si ibu Editor,
Kumohon berhentilah mempertanyakan
mengapa selalu kamu yang akan kupilih menjadi pendamping hidupku.Karena jika kau tak berhenti bergumam,
biarlah saja kata demi kata ini yang akan berbicara.
Maka perhatikanlah dengan seksama.Kamu itu seperti kebetulan yang ditakdirkan Tuhan.
Ah, aku lupa.
Di dunia ini tak ada yang namanya kebetulan kan?
Maka kuganti saja,
kamu adalah takdir terindah yang Tuhan ciptakan.
Karena kurasa, aku ini wanita biasa saja.
Namun kau, kau begitu luar biasa.Jadi, mengapa selalu kamu, Tuan?
Kurasa karena sejak awal,
kau lah yang dicari oleh jiwa sepiku.
Sebagai teman masa kini yang begitu mengagumi diriku,
menerimaku apa adanya,
menemani setiap kesempitan dunia.Mengapa selalu kamu, Tuan?
Barangkali karena semesta pun tak bisa menolak cinta,
yang sama-sama kita tautkan
sejak kedua mata kita bertatapan.
Dahulu kupikir cinta pada pandangan pertama itu tak nyata.
Ternyata itu ada.
Dan perjumpaan denganmu membuatku percaya.Tuhan tahu,
aku tak butuh yang terlalu sempurna.
Namun di mataku, kau tetap sosok luar biasa.Tuhan tahu,
aku tak ingin dia yang menaruh hati pada selain satu.
Maka dia mengirimkanmu,
pria yang mampu setia hanya padaku.Bahkan semesta pun tahu,
aku seperti sedang bercermin saat menatap matamu.
Kulihat sosokku begitu indah
dengan binar-binar mimpi indah tentang kita berdua.Ah, kurasa sudah cukup ocehanku.
Tak perlu lagi kau bertanya ini itu.Ini cinta, Tuan.
Kumohon jangan lagi mempertanyakan.
Kalibata, 1 April 2013
- Tia Setiawati Priatna
Ini cinta, Tuan.
Kumohon jangan lagi mempertanyakan.
“Senangnya Belajar Islam: Aqidah” masuk nominasi buku anak islami terbaik di IBF 2013 :D
Minta doanya ya teman-teman … semoga menang. Aamiin.
Tertarik ingin punya bukunya? SMS/Whatsapp 087821400011 for special price. Thank youuuu <3
Minggu lalu, saya diajak sama Mas Ayang ke Kota Kinabalu (or KK, as everyone calls it.) KK ini ibukotanya Sabah, Malaysia. Lokasinya ada di ujung kepala Pulau Borneo atau Kalimantan. Misi utama kepergian kami adalah untuk menghadiri acara ngunduh mantu Kakaknya Mas Ayang. Kakaknya ini cowok. Dalam tradisi jawa, ketika seorang anak laki-laki menikah, kedua orang tuanya akan menggelar acara ngunduh mantu (atau mulung mantu dalam tradisi Sunda.) Bentuknya mirip hajatan resepsi pernikahan. Bisa dibilang, ngunduh mantu ini hajatannya pihak cowok untuk menyambut menantunya sekaligus memperkenalkan dia ke para kolega dan kerabat. Acaranya sih cuma satu hari, pas Jumat malam doang. Sisanya? Pacaraaan! Lilburaaan!
Saya berangkat hari Kamis malam, naik Air Asia. Berempat bareng Mas Ayang, Mbak Sepupunya, dan Buleknya. Dasar manusia yaaaa … belum berangkat aja udah ada drama di Bandara. Souvenir acara ngunduh mantu yang kami bawa nggak lolos masuk pesawat. Karena eh karena, dipackingnya pakai kardus. Wong ndeso nggak boleh naik pesawat ya emang? Dih!
Akhirnya kami bongkar itu kardus, isinya kami pindahin ke canvas bag yang dadakan beli di bandara. Agak PR sih … soalnya souvenirnya ini rada rempong bowk ….

Do you know cempor? yessss, lampu minyak :))
Kami agak khawatir, kalau dipindah-pindah kayaknya ini cempor bakalan pecah. Tapi ya sudahlah … Bismillah … daripada nggak jadi berangkat?
Awalnya, petugas bandara nggak mengizinkan cempor ini masuk pesawat. Karena, kalau nanti pecah bisa bahaya untuk keselamatan penumpang. Masuk akal, sih … tapi akhirnya dibolehin, kok.
Petugas Bandara: Ini tidak bisa masuk pesawat, bahaya banget kalau pecah blablabla yadda yadda yadda.
Mbak Sepupu Mas Ayang: Ini souvenir acara ngunduh mantunya Pak Konjen KK, Mas. Kami pilih cempor ini tujuannya sekalian untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia dan anu anu anu (insert some good statements here)
Akhirnya, kami sukses naik ke pesawat dengan senyum kemenangan (dan ngos-ngosan tentunya.) Penerbangan berjalan mulus, nggak terlalu banyak turbulensi. Kami mendarat di KK sekitar jam setengah satu malam dan langsung dijemput sama staff KJRI KK. Kesan pertama saya tentang KK? gelap! iya laah … kan malem. Cerita-cerita tentang kota ini dilanjutkan nanti, yaaa. Karena postingan ini kayaknya sudah mulai kepanjangan. Dan yang nulisnya sudah mau pulang kantor.
O iya, apa kabar dengan cempor-cempornya? pecah lima belas buah saja. Fifteen from two hundreds lamps. Hmm … not bad lah.
Happy weekend, errbody!
Seorang corporate slave (perempuan, 24th) tinggal satu indekos dengan dua teman sekantornya. Pada saat kedua temannya berangkat ke kantor, dia baru siap-siap hendak mandi. Pertanyaannya, setelat apakah perempuan itu pagi ini?
Doa dan semangat saya kirimkan buat Bapak lewat surat ini. Jaga kesehatan ya, Pak. Kalau Bapak sakit, nanti siapa yang memimpin Jakarta?
Cemunguuuddhhh!
Regards,
calon warga Jakarta.
Angin tenggara, jangan dulu bertiup ya.
Kami pasangan hujan.
Hanya bisa bercinta di waktu hujan.
Hujan dari sini
Kepada,
Perempuan luka
Berhentilah. Hatimu sudah terlalu lelah. Kamu tidak ingin lagi merasakan sesak ini. Kamu tidak mau lagi merasakan pedihnya menangis sendirian, tidak diinginkan. Kamu sudah terlalu banyak menangis, terlalu sering, kamu lalu terbiasa.
Hitung mundur waktu hidupmu, apa yang sudah kamu sia-siakan? apa yang telah kamu buang demi impian kosong? apa yang sudah kamu lewatkan?
Cinta itu menguatkan, merawat, menumbuhkan, memperbaiki … dengan caranya sendiri. Kamu sedang tidak cinta dirimu sendiri. Lihatlah, kamu yang semakin hari semakin rapuh … semakin cengeng. Hitunglah hari-hari sakit hatimu, mau sampai kapan? Kamu berbuat seolah-olah kamu tidak punya pilihan. Padahal pilihan itu ada di sini, di kedua tanganmu sendiri.
Menjauhlah … ini semua sudah cukup. Ya, kamu mampu menahan yang lebih berat lagi. Kamu sanggup menerima sakit yang lebih pedih lagi. Namun, tidak … kamu tidak harus melakukannya.
Lari. selamatkan dirimu.
It’s such a lazy evening. Drizzle pours to the ground, and nobody wants to get wet. Some people choose to stay home and cuddle, while some others enjoy this perfect weather in a lovely place with their loved ones. Like on this small cafe in the corner of the street.
On an empty table next to the window, a piece of paper lying.
Dear Tom,
I’ve waited for you in this cafe for three hours, or more? I don’t know. The only thing I know is that you have broke your promise, again. No, it is not the waiting that upset me. But the fact that I am not in the top of your ‘priority’ list anymore, it breaks my heart into pieces. I used to be your number one, but now I’m not even sure that I am still your only one.
If you are too busy to call, I’ll understand.
If you are too lazy to reply my messages, I’ll understand.
If you are too ignorant to comfort me when I am upset, I’ll understand.
If you are too attached to your past, I’ll understand.
If you are taking me for granted because I love you this much, I’ll understand.
But if I stop loving you, it’s your turn to understand.
Happy Anniversary,
Jenny
Jenny’s picture from here
Dear E,
Berada jauh dari kamu seringkali membuat saya merasa khawatir
Apakah pagi ini kamu sudah sarapan?
Atau lagi-lagi terlewat karena kamu pergi terburu-buru?
Suaramu di telepon barusan terdengar sengau.
Duh,
Saya takut kamu terserang flu.
Sungguh. saya tidak suka berada di sini.
Terpisah ratusan kilometer dari tempatmu,
Membuat saya mengkhawatirkan banyak hal.
Dan itu tidak menyenangkan.
Apakah kamu tahu?
Adalah doa yang lebih utama,
Ketika kata tidak lagi banyak berguna.
Maka,
Saya menitipkanmu pada Tuhan,
Lewat doa-doa yang mengalun pelan.
Seperti memelukmu tanpa perlu menjulurkan tangan.
Seperti tanpa kamu, tetapi saya tidak merasa kesepian.
Saya tahu Tuhan Maha Baik.
Saya tahu kamu akan selalu dijaga dan disayang.
Dan saya?
Rasanya saya akan lebih banyak bersabar.
Sampai genggaman tangan kita dipersatukan Tuhan.
Foto dari sini